Untukmu Pesan yang Tak Sampai
Akankah ceritaku membuatmu mengerti?
Bukan aku meminta kau selalu ada, keegoisanku yang mengendalikan pikiranku untuk tak merelakanmu. Ia selalu merengek meminta keadilan atas dirimu. Perhatian yang kau curahkan, cerita yang kau utarakan, bukankah itu milikku?
Jika dia yang memahamimu, aku hanya dapat menghela nafas dan mencoba bertahan walau terasa sakit di dalam dada. Mungkin ini yang disebut dengan sakit tapi tidak berdarah.
Kau tau, sesekali aku ingin melarikan diri ke tempat dimana tak adanya dirimu akan terasa begitu mudah. Namun aku salah, tak adanya dirimu membuat hidupku terasa abu-abu tak ada ketegasan di dalamnya.
Jika kau mengira kau sebuah pelarianku, kau salah besar. kaulah tujuan utamaku. Bahkan jika itu mengganggumu aku akan memilih untuk meninggalkanmu. Aku tau aku pengecut, tak dapat berkata hanya dapat merasa.
Aku tak pernah membencimu. Di balik setiap perlakuanmu kepadaku aku selau ku lakukan adalah menyalahkan diriku sendiri hingga pada akhirnya tetes air mata mengalir sebagai tanda kesengsaraan diri.
Yang kupikirkan hanyalah cara membuatmu tersenyum walau aku mungkin tak selalu ada untukmu. Tapi kenyataannya kau malah telah terbiasa tersenyum tanpa hadirku dan mungkin peranku di hidupmu telah tergantikan. Bukan ku meragukan persahabatan kita selama ini, namun rasa sedih dan kecewa ku tak dapat ku tutupi darimu.
--inilah keegoisanku--
Komentar
Posting Komentar